Pameran seni atau eksebisi, secara fundamental memiliki fungsi komunikasi di dalamnya. Hal itu dapat terwujud jika, ruang (galeri) memiliki penawaran interaktif. Dari beberapa pameran yang pernah saya kunjungi, hal tersebut sangat sukar didapatkan.
Rasanya, tak lebih dari seorang peziarah yang menatap sebuah ornamen, kemudian mengingat epitaf saja. Segalanya nampak tawar, semuanya hening, kemudian hanya muncul berbagai bisikan tentang warna, nama, bentuk dan makna-makna mentah. Hingga suara kamera yang jauh lebih keras ketimbang tawa.
Tapi, kemarin, berita baik muncul. Seiring dengan cuaca panas dan hujan yang tengil di Palembang. Yudistira Wiranata, AKA Diskkomik membuka eksebisi tunggalnya.
Selama ini, seperti mitos urban, nama Diskkomik hanya bergerak dalam lalu lintas sosial media saya saja. Lewat lustrasinya yang khas; komikal retro dengan pop up dialog lugas. Dan tak lupa, isu sosial-politik selalu menjadi ruh dalam karyanya.
Pameran karya fisik yang dikurasi oleh Aditbaiik ini, berlangsung selama satu pekan, mulai dari tanggal 11-19 April 2026, di Tokofotokopi Universitas IBA. Selayaknya galeri seni yang sudah-sudah. Jajaran figura dengan ilustrasi ala Diskkomik, berjajar rapi di dinding, seperti barisan brimob mengamankan aksi.
Akan tetapi, kegelisahan saya dalam paragraf awal tulisan ini, dapat diobati oleh Diskkomik dengan caranya. Interaksi yang dimunculkan lewat berbagai rangkaian acara. Mulai dari diskusi hingga pertunjukan musik, berhasil menghangatkan galeri seni yang biasanya terkesan melempem pasca pembukaan acara.
Nicolas Bourriaud, kurator seni asal Prancis, sempat membahas hal demikian dalam bukunya yang berjudul Relational Aesthetics (1998). Nicolas melihat seniman sebagai fasilitator, bukan pembuat atau kreator saja. Dalam hal ini, seniman menjadi penggagas ruang pertukaran informasi. Sehingga setiap orang yang terhubung dalam karya dapat berpartisipasi secara aktif. Dampaknya, galeri seni dapat terasa dengan pekat keberadaanya.
"Pameran ini memang upaya untuk meromantisasi pertemanan". Hal itu diungkapkan oleh Diskkomik secara gamblang pada saat sesi "Bincang Perupa" di hari terakhir pameran. Teman lama bertemu kembali, teman baru bertambah lagi, karena pameran ini. Mungkin itulah nilai mahal yang ditawarkan Diskkomik pada eksebisi ini.
Terlebih lagi, tempat yang dipilih oleh Diskkomik, secara simbolik memang ruang untuk semua orang; milik siapapun dengan berbagai kepolosannya.
Tempat yang sehari-harinya sebagaimana toko fotokopi biasa. Tempat orang yang datang dengan berbagai doa dan kegelisahan. Perihal tugas akademik, lamaran kerja, penelitian yang memusingkan kepala. Dengan sajian dua warna; hitam dan putih saja.
Di tengah keringnya kota Palembang akan pameran seni. Tapi banjir air hujan dimana-mana, gagasan segar seperti eksebisi Diskkomik, agaknya perlu diperhitungkan. Sehingga, nilai termahal di galeri semacam ini adalah perjumpaan, obrolan ringan dan pertemanan.

